News & Events

PERLUASAN RUTE MENDESAK

Dalam kurun 16 tahun mendatang, jaringan transportasi massal yang ada kini tidak cukup mengakomodasi perjalanan warga Jabodetabek. Perluasan rute mendesak dilakukan.

JAKARTA, KOMPAS - Peningkatan jumlah penduduk Jabodetabek berkolerasi dengan bertambah nya kebutuhan mobilitas. Saat ini, angkutan yang ada sudah sangat padat, Karena itu, perluasan cakupan angkutan umum mendesak dilakukan.

Pemimpin Proyek Tim Studi Proyek Integrasi Kebijakan Transportasi Perkotaan Jabodetabek Tahap 2 (JUTPI 2) Junkichi Kano, Kamis (24/102019), mengungkapkan, tahun 2035, jumlah penduduk Jabodetabek diproyeksikan 45,3 juta jiwa, Jumlah penduduk ini meningkat 26,9 persen dibandingkan jumlah penduduktahun 2017 yang mencapai 33,1 juta jiwa.

Pada 2018, JUTPI 2 menganalisis kepadatan penumpang angkutan di tiga koridor. Pada koridor Bogor-Jakarta ada kebutuhan 680,000 penumpang per hari, baik yang bertujuan ke Jakarta maupun ke Bogor. Adapun kapasitas angkutan jalan dan rel hanya 370.000 peumpang per hari per dua jalur. Rasio voulume per kapasitas (V/C) di koridor ini adalah 1,84. Nila V/C di atas 1 artinya melebihi kapasitas.

Untuk koridor Tangerang-Jakarta, nilai V/C 2,08 dan Bekasi-jakarta 3,28. Kesimpulannya, jaringan transportasi masal, saat ini tidak bisa mengimbangi kebutuhan warga.

"Kami mengusulkan kepada pemerintah bagaimana memperluas jaringan transportasi yang ada seperti kereta MRT. BRT (bus rapid transit /Transjakarta), dan kereta LRT. Kami sudah menghitung koridor mana saja yang memiliki permintaan penumpang paling banyak," ujar Kano.

Jalur banyak penumpang di antaranya rute MRT fase 2 Cikarang-Balaraja sepanjang 87 kilometer dengan permintaan 816.100 orang per hari, jalur Bandara Soekarno-Hatta-Kampung Bandan, Cilincing-Lebak Bulus-Karawaci, Bekasi Selatan-Bekasi Utara, Pluit-Depok, jalur lingkar luar, dan jalur lingkar dalam. LRT juga diusulkan melayani rute Puri Kembangan-Dukuh Atas yang memiliki kebutuhan 63.800 penumpang serta beberapa rute lain, Cawang-Dukuh Atas, Cawang-Bogor, Sentul-Kota Bogor, Cawang-Bekasi Timur, jagakarsa-Cibubur-Cileungsi, Velodrome-Cakung, dan Kota Tangerang.

JUTPI 2 juga menyebutkan, biaya ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jabodetabek mencapai Rp 100 triliun per tahun. Rincian nya, kerugian akibat biaya operasi kendaraan bermotor Rp 40 triliun dan Rp 60 triliun untuk kerugian waktu perjalanan.

"Setiap orang di Jabodetabek mengalami kerugian Rp 3 juta per tahun akibat kemacetan lalu lintas ini," kata Kano. Sebagai perbandingan, biaya pembangunan MRT fase 1 besar Rp 16 triliun dan fase 2 Rp 22,5 triliun. Asisten Deputi Sistem Multimoda Transportasi Kementrian Koordinator Perekonomian Tulus Hutagalung menambahkan, data dari JUTPI 2 ini menurut rencana digunakan untuk revisi Rencan Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ). RITJ yan gada sekarang sudah tidak bisa menampung kebutuhan penumpang di Jabodetabek.

Perluasan rute mendesak dilakukan.

Balai Teknik Perkertaapian Wilayah Jakarta-Banten Ditjen Perkeretaapian kementrian Perhubungan mengaktifkan (switch over) jalur 6 Stasiun Manggarai, Jumat malam. Dengan diaktifkannya jalur 6 ini, KRL rute Jakarta-Bogor dilayani di jalur 5, 6, dan 7. Sementara kereta bandara di jalur 8 dan 9. Sebelumnya, sejak tahun 2018, jalur 6 ini ditutup untuk pembangunan perluasan Stasiun Manggarai. Kepala Balai Teknik Perkeretapian Wilayah Jakarta-Banten Rode Paulus mengatakan, diaktifkannya jalur 6 Stasiun Manggarai bertujuan meningkatkan kapasitas stasiun dan mengurangi antrean kereta. Stasiun Manggarai merupakan stasiun penting di Jakarta karena menjadi stasiun transit sekaligus titik temu kereta api dari sejumlah rute, seperti KRL Jakarta-Bogor, KRL Jakarta-Bekasi, kereta luar kota, kereta bandara, dan KA barang.

Switch ober di Stasiun Manggarai membuat jadwal keberangkatan tiga KRL pada hari Jumat malam dibatalkan, yaitu KRL Bogor-Jakarta Kota pukul 21.47, KRL Jakarta Kota-Bogor pukul 23.45 dan KRL Jatinegara-Manggarai pukul 23.00. Sementara terkait perlintasan sebidang, Dinas Perhubungan DKI Jakarta berencana menutup perlintasan tidak sebidang berupa terowongan (underpass).

"Pilihan untuk membangun underpass daripada flyover karena ke depan kami menginginkan kapasitas angkutan kereta meningkat," ujar syafrin Liputo, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Dalam Perpres Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional di sebutkan adanya sejumla proyek infrastruktur kereta api dalam kota di DKI Jakarta. Infrastruktur kereta api itu untuk menambahkan jumlah penumpang. "Untuk meningkatkan itu, salah satu cara dengan membangun elevated loop atau jalur layang yang melingkar," kata syafrin.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho mengatakan, untuk mempermudah pengguna angkutan umum dan pejalan kaki, pihaknya meningkatkan kualitas jembatan penyebrangan orang (JPO) Daan Mogot dan Pasar Minggu. Pada 2020, ada 18 JPO dibangun. (DEA/HLN/GIO) Sumber : Kompas, 25 Oktober 2019